Di balik Kontroversi Art Stage


This is the Indonesian translation of the article, Behind the Art Stage Controversy, published in Flash Art. This came out of a conversation I had with Ibu Melani Setiawan, one of Indonesia's most avid supporter of artists. She offered to translate this into Bahasa Indonesia so that "more indonesian artists can have access", when I mentioned that I wrote this piece especially with Indonesian artists in mind . Such support from art lovers is the reason why Indonesian artists continue to circulate the world over with no governmental funding. Bless her heart! Terima Kasih Banyak Ibu Melani!


Untuk tahun 2013, Art Stage Singapore akan mempersembahkan sebuah Paviliun Indonesia seluas 1.000 m2 yang berkolaborasi dengan 30 seniman[1], sebagian besar tanpa perantara galeri. Dibiayai dengan skema komisi yang kontroversial di mana Art Stage menerima potongan sebagai dealer dalam penjualan karya seni[2], Paviliun ini telah memulai perdebatan yang intens di berbagai medan sosial senirupa di Asia. Hal ini terjadi terutama karena konsep yang diajukan oleh Lorenzo Rudolf, seorang direktur art fair yang berpengalaman dan mengutip perkataannya, "Seniman terkemuka di Asia diwakili oleh galeri-galeri Asia dan tidak hanya oleh galeri-galeri di Barat. Bila tidak, kita tidak dapat mengembangkan Asia sebagai sebuah market".[3]

Walaupun saya melihat bahwa keberadaan Paviliun dan juga skema komisi tersebut tidak memiliki alasan yang kuat dalam konvensi yang telah kita kenal di dunia seni rupa, saya juga merasa bahwa kontroversi berlebihan tersebut muncul karena adanya realita di baliknya yang memiliki konsekuensi yang lebih besar, bahwa Paviliun tersebut ada karena perupa-perupa Indonesia menghendakinya. Mengapa? Ay Tjoe Christine[4], salah seorang perupa kontemporer Indonesia yang tinggal di Yogyakarta berkata, "Mengapa tidak? Saya kira kita harus melihat sisi positifnya. Kesempatan ini baik untuk menampilkan karya seni Indonesia. Sebagian besar galeri di Indonesia hanya tertarik pada keuntungan-keuntungan jangka pendek saja. Seringkali mereka mendatangkan kurator-kurator dunia ke Indonesia hanya untuk memperlihatkan seberapa baik jaringan mereka dan meminta perjanjian eksklusif bagi para perupa untuk memamerkan karya-karya mereka. Tapi ia hanya terhenti sebatas itu saja. Di luar itu, hanya segilintir galeri yang benar-benar memiliki rencana jangka panjang terhadap karir senimannya. Saya berharap mereka bisa memiliki rencana jangka panjang". Dan pandangan ini pun diamini oleh banyak perupa peserta di Paviliun.

Respon Ay Tjoe ini menguatkan apa yang Lorenzo coba utarakan tentang art market sejak pertama kali penyelenggaraan Art Stage: "Seniman telah memiliki hubungan yang dekat dengan berbagai yayasan besar dan juga kolektor-kolektor yang mengunjungi Asia Tenggara. Mereka ingin 'go international'. Tapi galeri-galeri yang ada masih fokus pada level nasional. Tak lama lagi, para seniman akan berpikir, maaf, bagaimana galeri di sini dapat mendukung saya?" Saya kira, "tak lama lagi" itu sudah datang dan waktunya adalah sekarang: perupa Indonesia telah memutuskan untuk melakukan sesuatu tentang hal ini secara kolektif. Paviliun ini adalah peringatan bagi galeri untuk mulai "berbenah atau tertinggal".

Dalam perbincangan saya dengan beberapa pemilik galeri di Indonesia, sejumlah orang memang mengakui kekurangan komitmen mereka --walaupun dengan alasan yang jelas. Sebagian karena iklim ekonomi yang tak menentu sementara sebagian lagi karena pertimbangan pengeluaran-keuntungan. Pelajaran utama yang muncul dalam hal ini sepertinya berkisar tentang permasalahan kepercayaan: pandangan bahwa" seniman kurang loyal/setia" membuat skema perwakilan galeri dalam jangka panjang sulit dilakukan. "Sulit untuk berinvestasi jangka panjang bila seniman muda hanya memerlukan tempat untuk pameran saja. Dan saat mereka terkenal, mereka pindah galeri. Saya ada di jadwal tunggu sepanjang 4 tahun untuk seorang seniman yang saya temukan dan kembangkan. Setelah beberapa saat, saya mulai mempertanyakan diri saya, kenapa mau peduli? Dan bagi seniman-seniman top 20, mereka pikir mereka sudah bisa melakukan sendiri, mereka tidak butuh dealer", ungkap seorang mantan pemilik galeri yang meminta tidak disebut namanya. "Saya mengakui adanya konflik internal antara seniman Indonesia dengan galeri. Dan bila kita sama-sama memperbaiki sikap, hal ini tidaklah terjadi. Kita hanya bisa menyalahkan diri kita sendiri". Beberapa pemilik galeri menyatakan keinginan mereka untuk mengundurkan dari fair ini karena "rasanya salah untuk ikut serta". Karena ikut serta dalam ajang ini sepertinya berkesan mereka menyetujui skema yang ditawarkan tersebut.

Di titik inilah kebuntuan muncul dan juga dibiarkan muncul dalam proses penyelenggaraan Art Stage. Walaupun kondisi-kondisi penyebabnya sangat dimengerti, saya berpikir apakah hasilnya dapat dipertanggungjawabkan melalui prosesnya. Saya pernah mengatakan kepada Lorenzo bahwa tidaklah mungkin orang sekaliber dan sepengalaman dia tidak melihat hal-hal ini akan terjadi. Untuk hal tersebut, dia beralasan kuat bahwa Indonesia telah siap untuk pasar seni rupa internasional. Dia beralasan bahwa absennya seni rupa Indonesia yang kini tengah menjadi pusat perhatian merupakan sebuah kekurangan. Ia pun menambahkan bahwa "pengalaman saya mengajarkan bahwa selalu ada perlawanan untuk hal-hal yang baru". Betapa pun kompleksnya permasalahan ini, satu hal yang pasti: "senimanlah yang berada di kursi pengemudi. Dan sebuah keharusan bagi mereka untuk bernavigasi dengan peta yang terbentang dengan benar.

Saya ingat percakapan saya dengan Uli Sigg, seorang kolektor terkemuka yang menjadi saksi sejarah perkembangan senirupa kontemporer China[5]. "(di masa lalu), perupa China menjual karya mereka kepada siapa pun yang datang. Mereka tidak peduli kalau karya itu akan ada di tempat yang bisa menduplikasinya atau dilihat oleh orang-orang yang tepat, mereka hanya mementingkan alasan materi. Kemudian, mereka memutuskan untuk menjual sendiri karya-karya mereka karena galeri tidak dapat memberikan nilai lebih bagi harga karya mereka. Galeri tak dapat membuatkan buku bagi para perupa, mereka juga mungkin saja tak dapat memamerkan karya-karya perupa. Lalu mengapa perupa harus memberikan mereka komisi hanya karena mereka menjualkan karya? Sangat bisa dimengerti. Fakta bahwa perupa-perupa berhubungan langsung dengan pembeli tanpa melalui sistem galeri juga berarti mereka tidak didukung oleh pameran dan juga tidak memiliki lobbyist untuk menjual karya-karya mereka. Perupalah yang memproduksi karya, merekalah yang menegosiasikan karya mereka, dan mereka sendiri yang menjualkannya. Dan memang, penjualan menjadi jauh lebih mudah; tapi banyak dari perupa yang meninggalkan karir mereka yang potensial hanya karena enggan untuk masuk sistem medan sosial seni rupa yang perlahan-lahan muncul dan ada sekarang ini. Bahkan hampir semua perupa China, pada titik tertentu, mempertanyakan hal ini: apakah saya ingin menjadi perupa China yang sukses secara finansial? Ataukah saya berambisi untuk memiliki karir internasional? Yang terakhir adalah jalan yang lebih sulit karena kesuksesan finansial dan juga artistik bisa jadi menjauh. Seringkali, seniman tidak membuat keputusan ataupun pilihan dengan sadar".

Kiranya perupa Indonesia berada di persimpangan yang sama. Art market di Asia Tenggara tengah berada di tengah perubahan. Paviliun Indonesia memperlihatkan bahwa meningkatnya kekuatan pasar dan teknologi yang mulai menyisihkan batas-batas wilayah telah memfasilitasi akses bagi para perupa untuk mendapatkan keuntungan dari keberdayaan mereka dan mereka kini telah memiliki posisi untuk melaksanakannya. Walau secara konstitusi terlihat oportunis, Paviliun ini adalah sebuah pengalaman yang menawarkan jawaban penting bagi seluruh stakeholders di medan sosial seni rupa.

Pertama kali diterbitkan dalam edisi cetak dan versi digital Flash Art, edisi November 2012.

[1] Bila perupa-perupa “crème de la crème” di Paviliun termasuk nama-nama yang terkenal, menurut informasi yang beredar, nama-nama seperti Eko Nugroho, Ay Tjoe Christine, Nyoman Masriadi, Handiwirman dan Agus Suwage tidak masuk di dalamnya. Beberapa sumber lain yang belum terverifikasi juga mengatakan bahwa sejumlah perupa peserta pun berpikir ulang untuk ikut.

[2] Art Stage memiliki skema yang berbeda bagi seniman dan juga dealer yang mewakili seniman di Paviliun. Perupa ditawarkan skema 50%-50% bagi penjualan karya seninya, sementara para dealer dikenakan biaya sebesar SGD 19,000 di muka untuk biaya "peminjaman ruang" bagi tiap-tiap karya. Hal ini mempersulit keikutsertaan para dealer. Dan para dealer melihat hal ini sebagai upaya pengucilan yang disengaja. Untuk hal ini, menurut Lorenzo, "saya sangat terbuka untuk berdiskusi".

[3] Chen, P., (2011), The Next Stage, FT Weekend, Life & Arts, Collecting, Financial Times, May 20-22.

[4] Ay Tjoe Christine dimintai pendapatnya, terlepas dari absennya dari Paviliun ini karena telah memiliki rencana pameran sebelumnya, mengingat karyanya memiliki banyak penggemar dan juga telah memiliki pasar yang cukup mapan dibandingkan seniman-seniman muda yang pernah dikontak yang memilih untuk tetap diam; kemungkinan karena enggan berbicara depan publik, takut menyinggung pemilik galeri dan tersingkir dari berbagai proyek.

[5] Chen, P. (2012), Leading Collectors of Asian Art - Uli Sigg (judul dalam persiapan), transkrip wawancara untuk penelitian mengenai koleksi dan medan sosial seni rupa Asia, 18 Juni, belum terpublikasi. www.asianartcollectors.wordpress.com

#ArtStage #PatriciaChen

Recent Posts
Archive
Search By Tags
Follow Us
  • Facebook Basic Square
  • Twitter Basic Square
  • Google+ Basic Square

JOIN THE ASIAN ART SCRAPBOOK COMMUNITY

  • Black Twitter Icon
  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon

© 2017 SEKEL MEDIA ASIA LLP     EMAIL : SEASIAGUIDE@GMAIL.COM